
SURABAYA (JP) – Legenda sepak bola timnas Indonesia, Ferril Raymond Hattu menyatakan, bahwa tidak ada dualisme dalam tim legend Surabaya. Ini berkaitan rencana pertandingan Charity Game Indonesia II.
Hal itu, ia tegaskan di hadapan awak media bersama sejumlah legenda hidup sepak bola lainnya, Minggu (12/5/2024) sore di sebuah rumah makan di Jalan Diponegoro, Surabaya.
Tampak hadir, Fakhri Husaini, Widodo C Putra, Uston Nawawi, Muharom Rusdiana, Yongki Kastanya, Maura Hally. Kemudian Ronny Tanuwijaya selaku pembina para legend.
Penegasan itu, terkait adanya pertandingan sepak bola yang mempertemukan legenda Surabaya dan Malang di stadion Gajayana, Minggu (19/5) mendatang.
Pria kelahiran Surabaya asal Maluku itu menceritakan awal mula rencana pertandingan dalam rangka satu abad stadion Gajayana ini, sekaligus upaya rekonsiliasi suporter pasca tragedi Kanjuruhan.
Sehingga, hal itu mendapatkan respon positif dari Pj Gubernur Jatim, Adhy Karyono. Harapannya sepak bola di Jawa Timur makin kondusif.
Singkat cerita, Ferril mendapat kepercayaan untuk mewakili para legend Surabaya menjalin komunikasi dengan panitia asal Malang.
Perlu diketahui, istilah legend Surabaya ini meliputi mantan pemain Persebaya, ASGS hingga Niac Mitra atau Mitra Surabaya. Demikian juga, legend Malang adalah mantan pemain Persema dan Arema.
Akan tetapi, kata sepakat belum terjalin antara panitia dan pihak Ferril. Utamanya terkait nilai kompensasi, sebab pertandingan bersifat komersial, adanya sponsor.
Ferril minta panitia menghargai sebutan ‘legend’ sebagaimana marwahnya dengan layak. Namun, bukannya melanjutkan komunikasi, panitia malah mendekati oknum legend lainnya, dan sepakat dengan nilai yang ditawarkan.
Sementara itu, unek-unek Ferril dkk, akhirnya sampai ke telinga Pj Gubernur Adhy Karyono saat nobar Piala Asia U-23, antara Irak dan Indonesia.
Alhasil, berselang waktu, panitia menginformasikan, bahwa nilai yang pengajuan Ferril sepenuhnya Pj Gubernur Jatim yang menanggung.
Persoalan timbul, karena nantinya yang bakal turun dalam laga tersebut, bukan para legend yang bertemu dengan Pj Gubernur Adhy Karyono.
Kendati demikian, Ferril tidak mempersalahkan legend yang akan bermain. Namun hanya ingin menyampaikan informasi, bahwa yang main nanti bukan legend yang menemui Pj Gubernur Jatim.
“Seandainya, pertandingan tanggal 19 nanti, bersifat sosial, kami dengan senang hati meski tanpa bayaran,” katanya.
Sebab, legend lain juga menyampaikan, bahwa mereka tidak ingin kena cap ‘mata duitan’. Hanya menempatkan marwah, bagaimana menghargai para legend, pahlawan olahraga nasional ini.
“Tapi, legend Malang juga enggan tampil, kalau bukan kami yang turun bermain,” timpalnya.
Dalam kesempatan itu, Ronny Tanuwijaya selaku pembina tim legenda menyayangkan, bahwa seharusnya koordinator pihak tim legend yang akhirnya main tanggal 19 itu, berkomunikasi dengan Ferril, agar tetap satu suara dan solid.
“Harusnya legenda-legenda tetap kompak dan solid,” ucapnya singkat.
Informasi tambahan, Pj Gubernur Jatim, kemungkinan juga tidak dapat menghadiri acara. Sebab, tanggal 19 posisi tugas di Jepang. (adv)



















