JPnews

Cakrawala Nusantara

BERITA SOSIAL SURABAYA

Stunting Jatim Ditarget 14 Persen saat Ngopi Bangga Kencana 2023

Stunting Jatim
STUNTING: Kaper BKKBN Jatim Maria Ernawati di Jalan Kalasan, Surabaya, Selasa (19/12/2023) sore. (KS/REDAKSI)

SURABAYA (Jpnews.id) – Penyebab masalah stunting adalah multi faktor, tidak hanya kemiskinan. Hal ini terungkap pada “Ngopi Bangga Kencana 2023” di Jalan Kalasan, Surabaya, Selasa (19/12) sore 16.00 WIB.

Yakni Ngopi Pintar Bareng Kaper BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) Jatim bekerja sama dengan organisasi kewartawanan Sindikat Wartawan Indonesia (SWI).

Tema yang diangkat adalah Peran Insan Pers dan Mahasiswa dalam Percepatan Penurunan Stunting di Jawa Timur. 

Tak hanya kemiskinan, menurut Kaper BKKBN Maria Ernawati, bahwa tak hanya kemiskinan. Tetapi, faktor budaya, pola asuh, sanitasi. Ini juga berpengaruh menjadi faktor terjadinya stunting. 

READ  Open House Kembali Digelar di Rumah Rakyat

“Kalau peran ulama, kami sudah menggandeng sejumlah ulama dengan sosialisasi-sosialisasi BKKBN. Ini juga sudah mulai ke pondok-pondok pesantren untuk memahamkan terutama kepada para santriwati.”

“Biar paham, biar dia punya perencanaan kepada masa depan keluarganya. Dan siap memenuhi fungsi-fungsi keluarga. Baik fungsi agama maupun reproduksinya, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya,” katanya.

Dijelaskan Erna, untuk angka tinggi stunting di Jatim ada di Jember, Bondowoso dan Situbondo. Kalau yang terendah di Kota Surabaya hanya satu digit, yaitu 4,8 persen. 

READ  Betonisasi Aspal Jalan Raya Kedung Baruk-Kalirungkut Awal Mei

“Kita doakan ada penurunan. Kalau melihat upaya-upaya pemerintah daerah yang luar biasa. Kemudian upaya dari perguruan tinggi termasuk wartawan. Ini saya optimis ada penurunan,” tuturnya. 

Sementara itu, untuk target penurunan tahun depan (2024) harus 14 %. Ibu gubernur menargetkan stunting Jatim di bawah angka 14 persen. Sementara saat ini masih 19,2 %.

“Kalau dalam keluarga itu faktor penyebab stunting karena kemiskinan. Itu bagaimana ada pemberdayaan ekonomi keluarga.”

“Kemudian diberikan pemahaman terkait nutrisi yang sederhana saja,” bebernya. 

READ  Staf Ahli Buka Kegiatan Pemberian Makanan Bagi Balita Gizi Buruk di Kota Bima

Menurut Erna, apabila orang stunting itu, kalau sudah risiko stunting, maka yang paling bagus untuk meningkatkan gizinya adalah dengan nutrisi hewani.

“Nutrisi hewani di sekitar banyak yang terjangkau. Seperti lele, telur sehari satu itu untuk balita sehat,” tukasnya.

Turut hadir menjadi pembicara lainnya, yakni Ketua SWI Dedik Sugianto, Agus Purbo Widodo Waka Rektor UTS, Merlina Maria Dosen UWM dan tokoh pers Gatot Irawan.

Selain itu, juga hadir mengikuti jalannya acara, yakni puluhan wartawan dan mahasiswa. (red)

Visited 3 times, 1 visit(s) today

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page